Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak #part I

Oleh: Ahmad Yasin

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia berpasang-pasang dan menciptakan keturunan dari pasangan-pasangan itu. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik.” (QS. An-Nahl : 72)

Tentunya bagi orang tua atau calon orang tua harus mengetahui tugas-tugas yang akan diembannya ketika datang buah hatinya. Seorang anak adalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang tua akan ditanyai pertanggung jawabannya atas mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, 

 كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari)

Memberi nama yang bagus

Memberi nama yang bagus disunnahkan dalam islam, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad Darimi dan Abu Dawud bahwasannya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

فَأَحْسِنُوا أَسْمَائَكُمْ

“Dan baguskanlah nama-nama kalian”.

Dan nama yang paling bagus menurut Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah Abdullah dan Abdurrahman. Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, 

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama-nama yang paling disukai Allah Ta’ala ialah nama-nama seperti: Abdullah, Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Baca juga : Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Imam Nawawi menjelaskan, dalam hadis ini terdapat perintah menamai anak dengan kedua nama tersebut, dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melebihkan kedua nama itu dari nama-nama yang lain. (Lihat Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi juz 14 hal. 113)

Kriteria nama yang bagus diantaranya; 

  1. Sebuah nama tidak mengandung makna-makna yang tercela, maka harus mengandung makna yang terpuji. 

Nama yang berbahasa arab bukan menjadi jaminan bahwa nama itu islami atau bagus. Misalnya seseorang dengan bangga menamai anaknya (dengan bahasa arab) “Siti Mighrofah” atau “Zurni Laila” sepintas kayak bagus, tapi jika melihat maknanya maka hal ini kurang pantas, “Mighrofah” dalam bahasa indonesia bermakna “Gayung” (alat penyiduk air yang semisal), dan “Zurni Laila” bermakna “Kunjungi aku setiap malam”.

Maka jika tidak mengetahui nama-nama yang bagus seseorang wajib bertanya kepada ahli ilmu.

  1. Menamai seorang anak dengan nama-nama orang shalih atau para nabi.

Hal ini berdasarkan perbuatan nama Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam yang menamai salah satu anaknya dengan nama Ibrahim. Dan juga berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam,

 إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

“Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para nabi mereka dan orang-orang shalih dari kaum sebelum mereka.” (HR. Muslim)

  1. Mengandung penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Seperti yang sudah disebutkan di atas nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sebaliknya tidak boleh menamai anaknya dengan nama yang mengandung penghambaan kepada selainNya, misal “Abdun Nabi” yang bermakna “Hambanya Nabi”, dan yang sempat viral “Abdul Fairus Corona” yang bermakna “Hambanya Fairus”. Maka selayaknya seseorang bertanya kepada ahli ilmu dan tidak mengikuti tren atau hanya mencari sensasi saja.

Wallahu A’lam

Rujukan:

  1. Al Quran
  2. Shahih Bukhari
  3. Shahih Muslim
  4. Sunan Abu Dawud
  5. Sunan Ad Darimi
  6. Musnad Ahmad
  7. Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top