Tanggungjawab orang tua part-3

oleh: Ahmad Yasin

Di artikel sebelumnya telah disebutkan beberapa tanggungjawab orang tua beserta dasar-dasarnya. Tanggungjawab tersebut diantaranya; memberi nama yang baik, menafkahi dengan harta yang halal, mendidik agama dan berlaku adil kepada anak tanpa membeda-bedakannya.

Akan tetapi ada beberapa tanggung jawab yang sering dilupakan oleh banyak orang. Padahal perkara ini adalah perkara yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan atau diwakilkan. Tanpa adanya keseriusan orang tua atau calon orang tua dalam hal ini tidak akan mungkin mereka bisa melakukan tanggungjawab-tanggungjawabnya, seperti yang sudah disebutkan pada artikel sebelumnya. Perkara tersebut adalah orang tua harus bisa menjadi teladan yang baik untuk anaknya.

Apakah anda yakin sudah siap menjadi orang tua?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari simak langkah-langkah berikut.

Pertama, berusaha menjadi baik dan selalu istiqomah. Ingat! Anak tergantung bapaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi waSallam,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa seorang anak akan terpengaruhi oleh apa yang dia lihat, dengar dan baca (kalau sudah membaca). Maka selayaknya orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya dan mempersiapkan diri mulai dari sebelum menikah atau sebelum punya anak.

Teruslah berazam untuk menjadi baik dan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu waTa’ala, karena hati selalu berbolak-balik.

Persiapan apa saja yang harus dilakukan?

Belajar menjadi contoh yang baik saja tidak cukup, karena kebaikan tidak akan diketahui oleh seseorang kecuali dengan mempelajarinya..

Seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya, salah satu tanggungjawab orang tua adalah mendidik agama. Maka orang tua harus siap dengan ilmu agama yang cukup untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Hadirilah majelis-majelis ilmu yang ada, jika tidak anda dapati, maka dapat mencarinya di chanel-chanelmedia sosial yang terpercaya seperti Yufid TV, Wesal TV, Madani TV dll. (dapat ditanyakan kepada ustadz-ustadz yang kredibel/dapat dipercaya).

Selalu meminta nasehat kepada orang yang berilmu dan berpengalaman dalam mendidik anak. Carilah sosok orang tua yang berhasil dalam mendidik anak, seperti mereka yang berhasil menjadikan seluruh anaknya sebagihafidz-hafidzahal Quran serta shalihshalihah.

Begitulah hidup, belajar meneliti kehidupan orang lain untuk diambil pelajaran dan berkembang sangatlah dibutuhkan, dan juga Al Quran banyak berisi kisah-kisah yang patut dijadikan sebagai teladan hidup.

Sekali lagi, intinya seseorang harus berusaha menjadi baik dahulu sebelum menjadi pendidik bagi orang lain, terutama anaknya. Imam Malik pernah berkata,

لَايَصْلُحُآخِرُهَذِهِالْأُمَّةِإِلَّابِمَاصَلُحَبِهِأَوَّلُهَا

“Tidak akan menjadi baik akhir daripada umat ini kecuali dengan kebaikan yang dilakukan oleh generasi awalnya.”

Memaknai perkataan Imam Malik, SyaikhAbdul Aziz Ar Rajihi berkata, “Generadi akhir daripada umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan kebaikan yang dilakukan oleh generasi awalnya, maknanya; generasi awal daripada umat ini menjadi baik karena mereka mentauhidkan Allah, menjalankan perintah-perintahNya, memberikan hak-hakNya (hak Allah atas hamba, seperti beribadah dan amalan-amalan yang diperintahkan olehNya), berjihad, beriman kepada Allah dan RasulNya, inilah amalan-amalan yang dilakukan oleh generasi awal. Dan generasi akhir dari umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan amalan-amalan yang dilakukan oleh generasi awal, jika mereka istiqomah menjalankan perintah Allah, mentauhidkanNya, mengkhususkan ibadah hanya untukNya, beriman kepada Allah dan RasulNya, serta berjihad dijalanNya, maka mereka menjadi generasi yang baik dan benar. Dan jika mereka tidak mengerjakan apa yang dikerjakan oleh generasi awal, maka mereka tidak akan menjadi generasi yang baik.” (Lihat Syarah Shahih Ibnu KhuzaimahSyaikh Abdul Aziz Ar Rajihi juz 9 hal. 27)

Itulah kita harus menjadi generasi yang baik dengan meniru kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh generasi awal umat ini.

Saya sudah punya anak, dan saya belum memiliki ilmu agama yang cukup untuk membentuk keluarga dan mendidik anak, apakah saya terlambat?

Saudaraku, tidak ada yang terlambat untuk menuntut ilmu serta menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Sebelum nyawa hanya tinggal kerongkongan, perubahan dan usaha untuk bergerak menjadi lebih baik selalu terbuka.

Seorang Umar bin Khattab beliau masuk islam ketika sudah memiliki anak, dan hal itu bukan menjadi penghalang beliau untuk menjadi orang terbaik dalam islam(setelah Rasulullah Shallallaahu alaihi waSallamdan Abu Bakar Radhiyallaahu ‘anhu).

Teruslah bergerak dan bersiap diri untuk menjadi orang yang baik untuk islam dan seluruh umat manusia. Rasulullah Shallallaahu alaihi waSallambersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersungguh-sungguhlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim)

MencariGuru yang Baik Untuk Anak

Selain berusaha berubah untuk menjadi lebih baik dan terus belajar, orang tua harus mencarikan guru yang baik untuk anaknya.

Kriteria guru yang baik adalah yang memiliki akhlak serta mengamalkan ilmunya pada kehidupan sehari-hari. Itulah guru yang dapat dijadikan sebagai teladan.

Dan juga orang tua dapat mencari tempat pendidikan yang layak dan berkualitas dari segi keilmuwannya. Hati-hati!, orang tua jangan hanya mencari tempat pendidikan yang ngetrend saja tanpa melihat kualitas isi di dalamnya.

Orang tua dapat bertanya kepada ustadz-ustadz yang kredibel, kemudian mengunjungi dan meneliti tempat pendidikan itu sebelum memasukkan anaknya di sana. Begitulah tanggungjawab orang tua terhadap anak-anaknya.

Kedua, mencari ibu atau ayah yang baik untuk anak-anaknya, insya Allah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.

Wallaahua’lam.

Rujukan:

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Syarah Shahih Ibnu Khuzaimah Syaikh Abul Aziz Ar Rajihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *