Urgensi Iman Bagi Keluarga Muslim

Oleh : Ahmad Yasin

Dahulu orang Quraiys sebelum datangnya Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam hidup dalam keadaan tidak beriman. Walaupun mereka memiliki sifat-sifat baik seperti memberi makan orang miskin dan menjamu tamu, akan tetapi hal itu tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi mereka kecuali dunia saja. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“Dari Aisyah dia berkata, Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah selalu bersilaturrahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu memberikan manfaat untuknya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, sebab dia belum mengucapkan, ‘Rabb-ku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.”

Allah tidak menerima amal manusia kecuali didasari dengan iman, dan tidak sama kedudukan antara orang beriman dan tidak beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (QS. At Taubah : 19)

Maksudnya adalah orang-orang kafir yang memberi makan minum orang yang berhaji dan orang kafir yang mengurus Masjidil Haram, tidak sama antara kedudukan mereka dan orang-orang yang beriman di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah tidak menerima amal manusia kecuali manusia itu beriman kepadaNya. (Lihat Tafsir Muyassar)

Dan sebaik-baik orang yang beriman adalah yang memiliki akhlak yang baik. Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Kaum mukminin yang paling baik imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dihasankan oleh Al Albani)

Membangun Iman Dalam Sebuah Keluarga

Manusia diperintahkan untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari amukan api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim : 6)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa memelihara diri sendiri dan keluarga dari api neraka adalah dengan mengimani dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam dari sisi keimanan dan menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangnya.

Melakukan amal shaleh tidak dapat diwujudkan kecuali dengan keimanan yang tertancap kuat dalam hati seorang mukmin. Maka penting sekali bagi seseorang untuk menanamkan iman sejak dini dalam keluarganya, hal itu juga yang dilakukan oleh wali Allah Lukman tatkala mendidik anaknya. Allah mengabadikan kisah tersebut dalam firmanNya,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)

Beberapa Sifat Orang-Orang yang Beriman

Banyak sekali sifat-sifat orang beriman yang wajib dan patut dijalankan oleh orang-orang beriman. Beberapa sifat tersebut diantaranya seperti yang Allah sebutkan dalam firmanNya surat al Mukminun ayat 1 – 11,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ . فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ . الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Singkatnya sifat-sifat yang disebutkan oleh ayat di atas diantaranya,

  1. Menjaga shalat-shalatnya dengan khusyuk, baik yang wajib maupun yang sunnah.
  2. Meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya, hal ini senada dengan hadis Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam,

 مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Abani)

  • Menunaikan zakat, zakat yang dimaksud adalah zakat yang wajib, bisa ditambah dengan sedekah-sedekah yang bersifat sunnah.
  • Menjaga kemaluan, serta menjaga diri dari sebab-sebab yang bisa menyebabkan zina kemaluan semisal, memandangi yang bukan mahram, membayangkan hal-hal yang tidak pantas dll.
  • Menunaikan amanat dan janji-janjinya kepada yang berhak.

Diatas beberapa sifat-sifat dasar yang wajib dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Masih banyak lagi sifat-sifat orang yang beriman baik dalam al Quran maupun hadis. Sifat-sifat itu berdasarkan tinggi dan kuatnya iman seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin banyak amal shaleh yang ia lakukan. Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Iman itu adalah tujuh puluh tiga bab lebih, yang paling rendah adalah menyingkirkan bahaya (seperti duri) dari jalan, sedangkan yang paling tinggi adalah ucapan; ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah’.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

Maka selayaknya orang yang beriman selalu berusaha menggapai tingkat yang tertinggi di sisi Allah dengan iman dan amal baiknya. Wallaahu a’lam.

Rujukan:

  1. Al Quran
  2. Tafsir Muyassar
  3. Shahih Muslim
  4. Sunan Tirmidzi
  5. Sunan Abu Dawud
  6. Akhlak Al Usroh Al Muslimah, karya Ahmad Abdul Muta’al.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top