Benarkah Lewatnya Seorang Wanita , Keledai , Dan Anjing Dapat Membatalkan Shalat?

Oleh: Ustadz Ryan Hidayatullah Lc.

Permasalah utama dalam bab ini terletak dalam memahami konteks hadist yang diriwayatkan imam Muslim dari Abi Dzar Al-ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda:

يقطع صلاة الرجل المسلم إذا لم يكن بين يديه مثل مؤخرة الرحل , المرأة  والحمار , والكلب الأسود …

 وفيه : الكلب الأسود شيطان .

“Apabila salah seorang diantara kalian berdiri shalat, maka ia akan terbatasi jika ada sesuatu di depannya (yaitu sutrah) seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda. Bila tidak ada di depannya sutrah seukuran tersebut, maka shalatnya akan terputus bila lewat di hadapannya keledai, wanita, dan anjing hitam, dan anjing hitam adalah syaithan “.

Dhahir hadist ini menunjukkan bahwasanya keledai, wanita dan anjing hitam dapat membatalkan shalatnya seseorang jika dia tidak menghadap sutrah (pembatas) ketika dia shalat. Jika demikian, bagimana pandangan para ulama dalam memahami hadist ini?

Perbedaan ulama dalam memahami teks hadist

Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara ulama dalam memahami hadist di atas, perbedaan mereka disebabkan maksud dari kalimat al qath’u (terputus) pada hadist. Apakah (terputus) dipahami secara dhahir yaitu membatalkan shalat, atau bisa dipahami dengan tidak sempur pahala shalatnya?

Pendapat yang memahami sesuai dhahir hadist.

Sebagian besar Ulama salaf memahami makna hadist sesuai dhahirnya, yaitu membatalkan atau merusak shalat orang yang dilewatinya .

Pendapat ini berlandaskan dua sebab:

Pertama: Secara bahasa arti qat’u  adalah terputus atau terpisah antara satu bagian dengan bagian yang lain, seperti tali yang terputus .

Kedua: kewajiban bagi yang shalat untuk meletakkan sutrah (pembatas) didepannya. .

Diantara ulama yang condong dengan pendapat ini adalah : Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Ahmad Ibnu Hambal dalam satu riwayatnya, Ibnu khuzaimah, Ibnu Taimiah ,dan ibnu qayyim rahimahumullah1.

Pendapat yang tidak memahami secara dzahir hadist

Sebagian ulama berpendapat, bahwa hadist ini tidak menunjukkan  batal atau merusak shalat, akan tetapi mengurangi kesempurnaan pahala shalatnya, karena kekhusyukannya terganggu.2 

Diantara ulama yang condong dengan pendapat ini adalah: Ali bin Abi Thalib , Ustman bin Affan , Malik , Syafi’i , Abu hanifah dan jumhur Ulama Salaf dan Khalaf  3.

Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa dalil, di antaranya:

Pertama: Mengambil sutrah ( pembatas) dalam shalat tidak wajib, melainkan perkara sunnah. Hal ini berdasarkan hadist imam ahmad dengan sanad hasan dari ibnu abbas, beliau berkata : 

أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في فضاء ليس بين يديه شيئ

“Bahwasanya rasulullah shalat dilapangan yang luas dan didepan tida ada pembatas apaun” 4.

Kedua:Terdapat hadist lain yang menunjukkan tidak membatalkan shalat, melainkan hanya mengurangi kesempurnaan shalatnya. Di antaranya : 

• Dari Abi Saa’id Alkudri , Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :

لا يقطع الصلاة شيئ , وادرؤوا ماستطعتم , فإنما هو شيطان

Tidak ada sesuatupun yang dapat memutuskan amalan shalat , dan tolaklah orang yang ingin lewat semampu kalian , karena dia sesungguhnay adalah setan5 .

•Pertanyaan Ibnu Syihab kepada pamannya tentang shalat. dia bertanaya: “Apakah dapat dibatalkan oleh sesuatu apapun ? “ pamanya menjawab : “tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu apapun .

Lalu dia melanjutkan , ‘Urwah ibnu zubair telah memberitahu kepadaku bahwa aisyah istri nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam  berkata :  Sungguh aku telah melihat rasulullah shalat, dan aku diranjang sambil tidur melintang diantara beliau dan kiblat 6 “…

Dalam riwayat lain, Aisyah berkata : “ apakah kalian ingin menyerupai kami ( wanita ) dengan keledai “

• Dari Abi Huzaifah , beliau berkata : …

أبي جحيفة : … ثم ركزت له صلى الله عليه وسلم , فتقدم الظهر ركعتين , يمر بين يديه الحمار والكلب لا يمنع

“Lalu rasulullah menancapkan tongkatnya didepan beliau sebagai sutrah ( pembatas ), kemudian beliau maju dan shalat dzuhur 2 rakaat, kemudian lewatlah seekor anjing dan keledai didepan beliau, dan beliau tidak mencegahnya 7 “.

Baca juga: Benarkah Ibunda Aiysah dinikahi pada usia 18 tahun?

Ketiga: Imam Ahmad Ibnu Hambal dan Ishaq berkata: yang dapat membatalkan shalat hanya Anjing Hitam. Adapun jika dilewati wanita dan kedelai, maka shalatnya tetap sah dan tidak mengurangi  kesempurnaan shalatnya8, karena terdapat hadist yang bertolak belakang .

Kesimpulan hukum dari pendapat di atas

Dari pendapat di atas, penulis melihat bahwa hadist ini bisa di pahami dengan dua metode :

Pertama: Barang siapa yang shalat kemudia lewat didepannya salah satu dari tiga objek yang disebutkan hadist (Wanita , keledai , atau anjing hitam) ataupun diluar tiga objek  itu seperti laki –laki , sapi ,atau kambing , maka tidak membatalkan shalatnya , melainkan hanya mengurangi kesempurnaan shalatnya dikarenakan meganggu kekhusyukanya .

Kedua: Barang siapa yang shalat kemudian lewat didepannya salah satu dari tiga objek yang disebutkan hadist  maka shalatnya batalk.

Untuk pendapat kedua ini, terdapat perkara penting yang harus diketahui, yaitu perencian sifat objek yang disebutkan dalam hadist.

Dikarenakan hadist di atas terlalu umum, maka dibutuhkan hadist yang dapat memperkecil keumumannya, atau disebut dengan (muqayad).

Sifat wanita yang dimaksud dalam hadist

Perlu digaris bawahi, tidak semua wanita dapat membatalkan shalat. Sifat wanita yang bisa membatalkan shalat, hanya perempuan yang telah sampai umur baligh.

Sebagaimana  perkataan Ibnu Abbas, “tidak masuk didalamnya gadis kecil yang belum sampai umur baligh8.” 

Sifat Anjing yang dimaksud dalam hadist

Bukan semua Anjing dapat membatalkan shalat. Anjing yang di maksud adalah Anjing yang memilik warna hitam pekat di seluruh tubuhnya. karena anjing hitam adalah syaithan. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :

الكلب الأسود شيطان

“Anjing hitam itu syaithan”

Syekh Utsaimin berkata: “Maka Anjing yang berwarna putih , Kuning , Coklat , atau warnanya tercampur antara hitam dan putih , jenis Anjing seperti ini tidak dapat membatalkan shalat9.”

Jenis keledai yang di maksud dalam hadist

Adapun Keledai, maka tidak terdapat satu hadistpun yang mengikat keumumannya. Maka dapat dipahami, bahwa semua jenis keledai baik kecil maupun besar , baik berwarna hitam , putih atau merah, bisa merusak shalat seseorang, jika dia melewati dihadapannya.

Hikmah dibalik syari’at di atas

Tidak ada dalil khusus yang menerangkan hikmah dibalik syariat ini, namun sebagian ulama mencoba dan berijtihad untuk mendapatkan hikmah dibalik syariat ini.

Hikmah dibalik penyebutan perempuan dalam perkara ini, karena khawatir dapat menimbulkan fitnah dan mengundang syahwat bagi laki-laki.

Sedangkan hikmah penyebutan Keledai, karena ditakutkan dapat mengganggu ketenangan orang shalat, disebabkan ringkikannya merupkan seburuk-buruk suara, Allah berfirman:

إن أنكر أصوات لصوت الحمير

“Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”

Adapun hikmah dari Anjing hitam, dikarnakan syaitan suka menjelma menjadi anjing hitam. Dan sebagian orang mengkiaskan Anjing Hitam sebagai syaitan.

Kemudian, di antara hikmah yang lain, karena Anjing dapat menganggu kekhusyukan orang shalat, atau bahkan bisa-bisa orang tersebut meninggalkan shalatnya, karna takut dari gigitannya 10.

Kesimpulannya, hadist ini menganjurkan setiap orang yang hendak shalat, harus menghindar dan menjauhi dari salahsatu tiga objek tersebut, karna pokok dari shalat adalah kekhusyukan dan ketenangan, jika kehusyukannya terganggu maka kesempurnaan shalatnya akan berkurang bahkan bisa membatalkannya .

Wallahua’alam bisshawab

Sumber rujukan :

1 . Majmu’ Fatawa ( 16/21) , Zadul Ma’ad (1 / 79) , Nailul Awthar ( 3/16).

2 . Addibaj Syarah Shahih Muslim , karangan Al-suyuti ( 2 / 193).

3. ‘Aunul Ma’bud Hasyiah Ibnu Alqayim ( 2/280).

4 . Musnad imam ahmad ( 1965).

5 .Sunan Abi Daud (1 / 191) , hadist ini di dhai’ifkan syehk albani , lihat: dha’if aljami’ (6366).

6 . Shahih Bukhari , bab : tidak ada yang dapat memutuskan (membatalkan) shalat, (515).

7 . Shahih Muslim ( 4/220)

8 . Lihat Subulussalam (1/216).

9 . Fathi zil jalali wal ikram , karya : Syekh Utsaimin ( 1/559).

10 . Kami nukil secara ringkas ,dari Al minhal syarah sunan Abi Daud (5/98).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top