Zakat Emas dan Perak

Oleh : Mukhlis Ibnu Katsir

Emas, perak dan sesuatu yang menempati posisinya (mata uang) termasuk harta yang wajib untuk dizakati, hal itu berdasarkan Ijma’ para ulama dan firman Allah ﷻ,

 ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah:34).

Kanz adalah harta yang belum ditunaikan zakatnya sebagaimana perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

كل مال لم تؤد زكاته فهو كنز

“Setiap harta yang belum ditunaikan zakatnya, maka ia adalah kanzun.” (HR. Baihaqi).

Apa hikmah diwajibkannya zakat emas dan perak?

Emas dan perak termasuk harta yang sering digunakan oleh manusia untuk mengembangkan harta miliknya, seperti halnya dengan hewan ternak. Dua benda tersebut adalah nikmat paling mulia yang Allah ﷻ berikan kepada hambanya; karena dengannya kehidupan manusia di dunia akan lebih seimbang.

Manusia memiliki kebutuhan sangat banyak yang semuanya todak bisa terlepas dari emas dan perak. Ketika seseorang ingin membeli makanan atau kendaraan, bukankah harus dengan mata uang? Bahkan ada sebagian orang yang mengatakan, “Barangsiapa yang tidak memiliki fulus (uang), maka dia akan mampus (tewas).”

Oleh karenanya orang yang menyimpan terus menerus tanpa mengeluarkan zakat kepada orang yang membutuhkan, maka sungguh dia telah membatalkan hikmah diciptakannya kedua benda tersebut, seperti halnya menahan seseorang yang selalu memberikan bantuan dan melarang untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Apa syarat diwajibkan zakat emas dan perak?

Tidak semua orang yang memiliki emas atau perak diwajibkan untuk zakat, namun harus terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Muslim.

Zakat yang dikeluarkan orang kafir hukumnya tidak sah, sehingga tidak wajib bagi mereka; karena hal tersebut akan sia-sia disisi Allah, Allah ﷻ berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-Taubah:54)

  • Merdeka (bukan hamba sahaya).
  • Pemilikan yang sempurna.

Artinya harta tersebut murni milik dia, berbeda halnya dengan harta budak mukatab yang ia berusaha untuk membebaskan dirinya.

  • Haul.

Harta yang sudah mencapai jumlah nisab tersebut sudah berputar satu tahun hijriyah, artinya ketika ditengah waktu menjadi berkurang dari nisab maka terputuslah nishab tadi, sehingga mulai perhitungannya dari awal, Berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

ليس في مال زكاة حتى يحول عليه الحول

“Tidaklah terdapat zakat pada suatu harta, kecuali telah melewati satu tahun.” (HR. Abu Dawud).

  • Mencapai nishab.
Berapa nishab zakat emas dan perak?

Para ulama telah bersepakat bahwa Nisab emas sebesar 20 mistqal / 85 gram, sedangkan nisab perak sebesar 200 dirham / 600 gram, dan ini diambil dari emas dan perak murni. Oleh karenanya, emas atau perak yang sudah tercampur dengan zat lain maka yang dihitung hanya tingkat kemurniannya saja.

Berapa zakat yang dikeluarkan?

Zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 % dari jumlah keseluruhannya, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

في الرقة ربع العشر

“Pada emas dan perak (zakatnya) 0,025 / 25 %.” (HR. Bukhari).

Bagaimana cara menghitung zakat emas dan perak?

Perlu diketahui bahwa emas dan perak memiliki dua macam; murni dan tidak murni. Emas murni adalah emas yang memiliki kemurnian seratus persen, sedangkan emas tidak murni adalah emas yang sudah tercampur dengan zat lain atau di bawah 24 karat.

Cara menghitung zakat emas atau perak murni sebagai berikut:

A=BxC

Keterangan:

A: jumlah zakat.

B: jumlah harta.

C: presentase zakat.

Contoh:

Ada seseorang memiliki emas sebesar 100 gram, maka zakatnya adalah:

A=BxC

=100×2,5%

=2,5 gram.

Ada seseorang memiliki perak sebesar 600 gram, maka zakatnya adalah:

A=BxC

=600×2,5%

=15 gram.

Cara menghitung zakat emas atau perak tidak murni sebagai berikut:

Rumus perhitungannya sama dengan emas atau perak murni, hanya saja sebelum masuk ke rumus harus mencari jumlah nishabnya terlebih dahulu, dan rumusnya sebagai berikut:

A= (B:C)x24

Keterangan:

A: nishab emas atau perak tidak murni.

B: nishab emas atau perak murni.

C: kadar karat emas atau perak tidak murni.

Contoh:

Berapa nishab emas berkarat 22?

A=(B:C)x24.

= (85:22)x24.

=3,86×24

= 92,72 gram.

Berapa nishab perak berkarat 22?

A=(B:C)x24

= (600:22)24

= 27,27×24

= 654,54 gram.

Dengan demikian, jika ingin mencari besar zakat emas atau perak tidak murni yang berkarat 22 maka nishabnya seperti yang di atas, lalu dalam proses perhitungannnya seperti rumus zakat emas atau perak murni, dan begitu seterusnya.

Apakah perhiasan yang dipakai wanita juga wajib dizakati?

Dalam masalah ini Imam Syafi’i memiliki dua pendapat, namun pendapat yang kuatkan oleh ulama Syafi’iyyah adalah tidak wajib, berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah memakaikan perhiasan kepada keponakannya, dan dia tidak mengeluarkan zakat dari perhiasan tersebut.

Ada kaidah yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terbuat dari emas atau perak, dan diharamkan untuk memakainya, maka benda tersebut wajib dizakati seperti perhiasan yang dipakai oleh kaum laki-laki. Adapaun yang dibolehkan pemakaiannya maka tidak wajib dizakati, seperti perhiasan yang dipakai oleh kaum wanita.

Apa hukuman bagi orang yang enggan menunaikan zakat?

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidaklah seorang yang memiliki emas dan perak, namun tidak menunaikan zakatnya melainkan pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dinyalakan di dalam api neraka, lalu disetrikakan pada perut, dahi dan punggungnya. Dan setiap kali seterika dingin, maka akan dipanaskan kembali, lalu diseterikakan pula padanya setiap hari yang mana satu hari sebanding dengan lima puluh tahun (di dunia) Hingga perkaranya diputuskan, kemudian diperlihatkan jalannya; ke surga atau neraka.” (HR. Muslim).

Faedah:

  1. Semua emas dan perak wajib dizakti; baik masih mentah maupun sudah menjadi perhiasan.
  2. Perhiasan selain emas dan perak seperti permata intan dan mutiara tidak wajib dizakatai, meskipun nilai harganya lebih tinggi; karena tidak ada hadis yang mewajibkannya, sedangkan hukum asal pada harta benda adalah tidak wajib dizakati.
  3. Uang kertas berada diposisi emas dan perak, artinya ketika uang tersebut sudah mencapai harga emas 85 gram atau dirham 600 gram maka wajib untuk dizakati; karena pada hakikatnya negara mengeluarkan uang kertas berdasarkan jaminan emas yang mereka miliki, oleh karenanya mereka tidak boleh mencetak uang lebih dari jumlah emas yang mereka simpan.
  4. Jika emas dan perak sudah mencapai nishab, lalu ditengah-tengan waktu tersebut digunakan untuk meminjamkan sebagian hartanya kepada orang lain, maka haul tidak terputus, dan tetap wajib untuk zakat meskipun harta tersebut ada di tangan orang yang berhutang.
  5. Zakat harus berbentuk emas, perak atau mata uang, dan tidak boleh mengganti dengan barang yang lain meskipun nilainya sama. Maka dari itu, jika ada orang yang membayar zakat lewat perantara wakil atau sebuah Yayasan, maka penanggung jawab harus memberikan harta tersebut kepada orang yang berhak, dan tidak boleh mengubah menjadi benda yang lain seperti bahan sembako tanpa izin dari penerimanya.

Referensi:

  1. Diktat kuliah Syari’ah Islamiyah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
  2. Kifayah Al-Akhyar.
  3. Al-Mu’tamad, Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *