Zakat Pertanian

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir


Allah ﷻ berfirman,


كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وءاتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ


“Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (panen).” (QS. Al-An’am:141).


Dari ayat diatas bisa diambil hukum bahwa hasil pertanian yang mencangkup buah atau biji-bijian termasuk harta yang wajib dizakati, namun hal ini berlaku pada makanan pokok saja.


Buah yang wajib dizakati seperti kurma dan anggur, berdasarkan sabda Rasululullah ﷺ,


وَتُؤْخَذُ زَكَاتُهُ زَبِيْبا كَمَا تُؤْخَذُ زَكَةُ النَّخْلِ تَمراً


“Zakatnya (anggur) diambil ketika sudah menjadi anggur kering (kismis) sebagaimana zakat kurma diambil setelah menjadi kering.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).


Adapun biji-bijian yang harus dikeluarkan zakatnya yaitu beras, gandum dan apa saja yang menjadi makanan pokok; karena setiap negara biasanya berbeda-beda, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika hendak diutus ke negeri Yaman,


لَا تَأْخُذُوْا إِلَّا مِنْ هذِهِ الأَرْبَعَةِ الشَّعِيْر وَالْحَنْطَة وَالزَّبِيْب والتَّمْر

“Jangan kamu tarik zakat kecuali dari empat ini: gandum kasar, gandum halus, kismis dan kurma.” (HR. Hakim)


Pada hadis ini beliau hanya membatasi zakat pada empat jenis makanan saja; karena itu yang menjadi makanan pokok mereka. Oleh karenanya biji-bijian yang lain juga terkena kewajiban zakat selama statusnya sebagai makanan pokok pada daerah tersebut.


Berapa nishabnya?
Nishab pada zakat biji dan buah-buahan adalah lima wasaq bersih dari kulitnya, dan satu wasaq 60 sha’, berarti 60 x 5=300 sha’. Jika dihitung dengan berat timbangan maka satu sha’ sebanding 2,4 kg, dan hasilnya adalah 300 x 2,4 = 720 kg.


Rasulullah ﷺ bersabda,


لَيْسَ فِيْ حَبٍّ ولَا ثَمَرٍ صَدَقَةٌ حَتَّى يَبْلُغَ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ

“Tidak wajib zakat pada biji dan kurma hingga mencapai lima wasaq.” (HR. Muslim).


Berapa zakatnya?
Ada tiga keadaan:
1. Jika disirami dengan air hujan, maka zakatnya 10 % dari hasil panen.
2. Jika disirami sendiri / tenaga, maka zakatnya 5 % dari hasil panen.
3. Jika sebagian disiram dari air hujan, dan sebagian yang lain disiram sendiri, maka zakatnya 7,5 %.


Aturan ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,


فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءِ وَالْعُيُوْنُ أَوكَانَ عَثَرِيا الْعُشْرُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air atau air tanah maka zakatnya sepersepuluh (10%), sedangkan yang diairi dengan tenaga zakatnya seperduapuluh (5%).” (HR. Bukhari).


Kapan zakat dikeluarkan?
Waktu diwajibkan zakat bagi seseorang pada buah-buahan yaitu ketika buah tersebut sudah terlihat masak, meskipun hanya sebagian saja. Adapun pada biji-bijian yaitu saat biji tersebut sudah kuat. Dan waktu dikeluarkan zakatnya saat musim panen tiba, sebagaimana firman Allah ﷻ,


وءاتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ


“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (panen).” (QS. Al-An’am:141).


Disunnahkan kharsh (taksir).
Kharsh adalah menghitung jumlah buah yang dimiliki dengan cara mengelilingi semua pohon ketika sudah nampak tanda-tanda masaknya. Dan ini sunnah bagi pemimpin wilyah sekitar untuk mengirim orang agar melakukan hal tersebut, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu,


أَمَرَ أَنْ يُخْرَصُ العِنَب كَمَا تُخْرَصُ النَّخْلُ


“Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menaksir anggur sebagaimana menaksir kurma.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)


Kriteria orang yang melakukan kharsh:
1. Adil; karena orang fasik tidak diterima perkataannya.
2. Memiliki ilmu kharsh; karena dalam pekerjaan ini membutuhkan ijtihad.
3. Laki-laki; karena khars termasuk suatu kepemimpinan, sedangkan perempuan tidak berhak menjadi pemimpin.


Referensi:
Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh As-Syafi’I, Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili.
Diktat Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *