Zakat Unta

Oleh : Mukhlis Ibnu Katsir

Seperti apa yang telah kita ketahui bersama bahwa harta yang wajib dizakati salah satunya adalah binatang ternak (na’am) yang itu mencangkup unta, sapi dan kambing.

Tiga hewan tersebut dinamakan na’am karena banyaknya nikmat Allah ﷻ yang sampai kepada hamba-Nya lewat perantara hewan tersebut, sekiranya manusia sering menjadikannya sebagai wasilah (perantara) untuk mengembangkan hartanya.

Pemilik hewan ternak harus mengeluarkan zakatnya, dan  masing-masing hewan tersebut memiliki batas minimal yang dinamakan oleh para ulama dengan Nishab. Berikut jumlah nishab untuk ternak unta beserta zakatnya:

NishabZakatUmur
5-91 ekor kambing atau 1ekor domba2 tahun lebih 1 tahun lebih
10-142 ekor kambing atau 2 ekor domba2 tahun lebih 1 tahun lebih
15-193 ekor kambing atau 3 ekor domba2 tahun lebih 1 tahun lebih
20-244 ekor kambing atau 4 ekor domba2 tahun lebih 1 tahun lebih
25-351 ekor anak unta1 tahun lebih
36-451 ekor anak unta2 tahun lebih
46-601 ekor anak unta3 tahun lebih
61-751 ekor anak unta4 tahun lebih
76-902 ekor anak unta2 tahun lebih
91-1202 ekor anak unta3 tahun lebih
1213 ekor anak unta2 tahun lebih

Namun kewajiban zakat unta berubah ketika jumlahnya lebih dari 121 ekor. Setiap 40 ekor unta zakatnya 1 ekor anak unta yang berumur 2 tahun lebih dan setiap 50 ekor unta zakatnya 1 ekor unta yang berumur 3 tahun lebih. Jadi 130 ekor unta zakatnya 2 ekor anak unta umur 2 tahun dan 1 ekor anak unta umur 3 tahun, dan 140 ekor unta zakatnya 1 ekor anak unta umur 2 tahun dan 2 ekor anak unta umur 3 tahun, dan 150 ekor anak unta zakatnya 3 ekor anak unta umur 3 tahun, dan begitu seterusnya menurut perhitungan di atas.

Aturan diatas berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim surat ke Bahrain, diantara isi suratnya berbunyi:

فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنَ الإِبِلِ، فَمَا دُونَهَا مِنَ الغَنَمِ مِنْ كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ إِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلاَثِينَ، فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى، فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلاَثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُونٍ أُنْثَى، فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ الجَمَلِ، فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ، فَفِيهَا جَذَعَةٌ فَإِذَا بَلَغَتْ يَعْنِي سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ، فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ، فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الجَمَلِ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ، فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنَ الإِبِلِ، فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا، فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا مِنَ الإِبِلِ، فَفِيهَا شَاةٌ

“Yaitu (dalam ketentuan zakat unta) pada setiap dua puluh empat ekor unta dan yang kurang dari itu zakatnya dengan kambing. Setiap lima ekor unta zakatnya adalah seekor kambing. Bila mencapai dua puluh lima hingga tiga puluh lima ekor unta maka zakatnya satu ekor bintu makhadh[1] betina. Bila mencapai tiga puluh enam hingga empat puluh lima ekor unta maka zakatnya 1 ekor bintu labun[2] betina, jika mencapai empat puluh enam hingga enam puluh ekor unta maka zakatnya satu ekor hiqqah[3] yang sudah siap dibuahi oleh unta pejantan. Jika telah mencapai enam puluh satu hingga tujuh puluh lima ekor unta maka zakatnya satu ekor jadza’ah[4]. Jika telah mencapai tujuh puluh enam hingga sembilan puluh ekor unta maka zakatnya dua ekor bintu labun. Jika telah mencapai sembilan puluh satu hingga seratus dua puluh ekor unta maka zakatnya dua ekor hiqqah yang sudah siap dibuahi unta jantan. Bila sudah lebih dari seratus dua puluh maka ketentuannya adalah pada setiap kelipatan empat puluh ekornya, zakatnya satu ekor bintu labun dan setiap kelipatan lima puluh ekornya zakatnya satu ekor hiqqah. Dan barangsiapa yang tidak memiliki unta kecuali hanya empat ekor saja maka tidak ada kewajiban zakat baginya kecuali bila pemiliknya mau mengeluarkan zakatnya karena hanya pada setiap lima ekor unta baru ada zakatnya yaitu seekor kambing.” (HR. Bukhari).[5]

Faedah:

Jika ada binatang hasil perkawinan dari hewan yang wajib dizakati dengan yang lainnya seperti kambing dengan kijang, maka tidak wajib zakat pada hewan tersebut; karena pada dasarnya zakat itu tidak untuk memberatkan. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu agar tidak memilih harta yang paling bagus saat mengambil zakat.

Begitu juga ketika ada binatang hasil perkawinan dari dua jenis hewan yang berbeda, namun keduanya termasuk binatang ternak yang wajib dizakati maka zakatnya dinisbatkan kepada binatang yang zakatnya lebih sedikit. Seperti sapi dengan kambing maka zakatnya diikut sertakan kepada kambing, unta dengan sapi maka zakatnya diikut sertakan kepada sapi.


[1] Anak unta umur 1 tahun lebih.

[2] Anak unta umur 2 tahun lebih

[3] Anak unta umur 3 tahun lebih

[4] Anak unta umur 4 tahun lebih

[5] Shahih Bukhari juz 2 nomor 1454 hal 118.

Referensi:

  1. Diktat Kuliah Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ditulis oleh kumpulan ulama dari bidang Fiqih.
  2. Shahih Bukhari.
  3. Al-Iqna’ syarah matan Abu Syuja’.
  4. Fiqih Islam karya H. Sulaiman Rasjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *